Ahmad Daud Blog's

Berbagi Informasi Di Seputar Kita

Dunia Islam Tak Kenal Humor?

Masyarakat Barat sering mengasosiasikan masyarakat Arab dan Islam sangat kering dalam seni humor. Nyatanya, tradisi humor memiliki akar sejarah yang panjang di dunia Arab dan Islam. Negara-negara Islam pun sama sekali bukan zona yang bebas dari humor.

Tragedi peledakan World Trade Center 11 September 2001 atau lebih dikenal dengan 9/11 telah membuat pandangan dunia Barat terhadap Islam menjadi sangat negatif. Umat Islam sering diasosiasikan dengan kekerasan dan teror.

Hal ini digambarkan secara sarkastis melalui pemuatan 12 karikatur yang menggambarkan sosok Nabi Muhammad SAW di surat kabar Denmark, Jyllands-Posten, pada 2005. Tentu saja hal ini memancing kecaman umat Islam yang sangat mengagungkan pembawa ajaran Islam itu.

Belum lagi sikap kalangan kanan di Eropa yang terlihat begitu ‘memusuhi’ Islam. Salah satunya terlihat dengan publikasi film Fitna produksi anggota parlemen Belanda, Geert Wilders, yang sangat provokatif terhadap Islam. Sehingga, bukan hanya memancing reaksi kalangan Islam, tapi juga sejumlah negara Eropa yang menolak kedatangan Geert ke negaranya.

Reaksi dunia Muslim yang begitu sensitif terhadap hal-hal yang bersifat prinsip itulah yang sepertinya tidak dipahami masyarakat Barat. Mereka lebih melihat bahwa dunia Islam ‘sangat kering’ dan tidak bisa menerima lelucon sebagai bagian dari hal yang manusiawi.

Di masa terjadinya ketegangan itu, Islam biasanya muncul di media Barat dalam wujud mullah yang serius dan perempuan bercadar. Betulkah?

Masyarakat Barat kerap lupa bahwa di balik sorban dan cadar itu juga ada tawa. Selain itu belum pernah ada kondisi masyarakat di berbagai belahan bumi mana pun, di mana penguasa otoriter atau sensor berhasil mengikis habis humor.

Pakar studi Islam Georg-August-University, Gottingen, Jerman, Ulrich Marzolph menilai pandangan masyarakat Barat tentang dunia Islam sangat sempit. Aspek-aspek ekonomi dan politis mendominasi. Sementara kebudayaan hampir tidak memiliki peran sama sekali.

Menurut dia, sudah tiba saatnya untuk menyadarkan masyarakat Islam dan Barat untuk melakukan refleksi. Sebab, kedua kebudayaan itu memiliki akar yang sama. Yakni dari kebudayaan Arab-Islam dan Eropa. Bahkan bukan sekadar sadar saja, tapi juga keikhlasan untuk menerima dan bersikap sesuai.

Lelucon Arab sendiri telah menyebar di dalam cara pandang Eropa tentang Arab melalui berbagai media dan sumber. Salah satunya berasal dari para rahib dan pendeta yang melakukan perjalanan ke Timur hingga ke wilayah Arab di masa Perang Salib.

“Mereka membawa bahan-bahan dan kebudayaan, termasuk humor, kembali ke negara asalnya. Atau juga para pedagang yang berhubungan langsung dengan Levante,” paparnya.

Namun, banyak masyarakat Barat yang tidak mudah tertawa karena lelucon orang Arab. Sebab warga Barat kurang tahu tentang keadaan politik, tokoh yang dihormati, agama, dan kultur Arab. Di lain pihak, warga Muslim begitu cepat tersinggung, jika orang Barat tertawa karena lelucon tentang Islam. Apa penyebabnya?

Pakar ilmu Islam Thomas Bauer dari Institut Wissenschaftskolleg zu Berlin mengemukakan sejumlah sebab. Menurut dia, masyarakat Muslim saat ini sebenarnya tidak berhenti memproduksi humor. Hanya saja mereka berada dalam situasi politik yang tidak mengundang orang untuk membuat lelucon.

Masyarakat Muslim, lanjut dia, ingin menampilkan posisinya sebagai satu kesatuan yang tegak dan kuat, karena mereka merasa pada posisi defensif. Hal itu bahkan sudah terjadi sejak era kolonialisme yang berlanjut hingga kini.

“Dalam posisi defensif, orang Muslim tidak ingin nilai-nilai dasar Islam dipertanyakan dengan humor, apalagi dengan gaya lelucon. Sehingga, jika hal itu datang dari luar dunia Islam, maka akan ditolak sama sekali,” terangnya.

Padahal jika ditelaah, humor di dunia Islam ternyata memiliki sejarah yang panjang. Bahkan, sejak abad ke-9, masyarakat Muslim telah banyak memproduksi humor cerdas dalam karya sastranya. Bahkan, karya itu bernilai sebagai kekayaan yang luar biasa. Di antaranya melalui kisah 1001 Malam ataupun humor para sufi.

Bahkan, saat itu masyarakat Muslim telah berani memasukkan tokoh nyata, bahkan ulama ke dalam cerita fiksi. Salah satunya dengan memasukkan tokoh Abu Nawas dan Khalifah Harun Al-Rasyid dalam cerita 1001 malam. Padahal, kedua tokoh ini begitu dihormati di zamannya.

Abu Nawas yang bernama asli Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami adalah tokoh sufi dan penyair yang sering digambarkan cerdik yang sering mengkritik dengan gaya humor kepada penguasa.

Namun, kini masyarakat Barat tidak bisa melihat hal-hal yang di era mereka dulu justru tidak didapatkan dalam budayanya. Di masa kini dan masa depan pun humor masyarakat Islam akan terus hidup dan akan membuat orang tertawa. Sistem otoriter yang kini mengungkung dunia Arab pun sepertinya tidak akan mampu menghentikan produksi lelucon itu.

Agustus 22, 2009 - Posted by | Uncategorized | , , , ,

1 Komentar »

  1. sudah wajar kalo ‘mereka’ memusuhi islam. kan dah dikasih tahu Allah.

    Komentar oleh islamarket.net | Agustus 22, 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s